Selasa, 16 November 2010

UNITY IN DIVERSITY

Dwiwarsa Hanna Artspace

DARI BALI KE JAKARTA

Oleh Arif Bagus Prasetyo (kurator)

HANNA Artspace menyelenggarakan pameran perdana di gedungnya yang berada di kawasan Ubud, Bali, pada November 2008. Sejak itu, Hanna Artspace telah menggelar 23 pameran tunggal maupun pameran bersama yang menampilkan aneka ragam karya seni rupa. Dengan mengadakan acara pameran setiap bulan, selama dua tahun belakangan ini Hanna Artspace berkibar sebagai salah satu galeri paling aktif di Bali. Aktivitas Hanna Artspace selalu ditunjang dengan kerja kuratorial yang bertanggung-jawab mengontrol mutu karya dan mengawal wacana yang ditampilkan.

Selama ini Hanna Artspace telah mendapatkan kepercayaan besar dari para perupa nasional maupun internasional untuk menghadirkan karya mereka di hadapan publik seni rupa di Indonesia, khususnya di Bali. Hanna Artspace telah menjadi ruang presentasi kreatif para perupa senior maupun para perupa muda, baik yang tinggal di Bali maupun di luar Bali. Sejumlah perupa terkemuka Indonesia pernah menampilkan karyanya di Hanna Artspace, seperti Nyoman Erawan, Sutjipto Adi, Tisna Sanjaya, Entang Wiharso, Nasirun dan Yani Mariani Sastranegara. Hanna Artspace juga pernah memamerkan karya para perupa mancanegara yang tersohor seperti Rudolf Bonnet, Han Snel dan Arie Smit, serta puluhan seniman internasional dari generasi baru seperti Keiji Ujie, Stephan Max Reinhold dan Marc Jurt. Namun demikian, Hanna Artspace tidak melupakan perupa muda. Puluhan nama perupa muda tercatat pernah berpameran di Hanna Artspace. Di luar pameran, manajemen Hanna Artspace juga aktif mendukung kreativitas perupa muda yang berbakat besar dan berdedikasi tinggi, serta mempromosikan karya mereka agar mendapatkan apresiasi yang makin baik dari publik.


Setiap kegiatan Hanna Artspace adalah perwujudan dari misi kultural, visi artistik dan standar estetik Hanna Artspace sebagai lembaga yang terlibat dalam upaya memajukan dunia seni dan kebudayaan di Indonesia. Pameran seni rupa bukan saja menghadirkan pencapaian kreatif para seniman individual, namun juga merefleksikan komitmen yang dipegang teguh dan diperjuangkan Hanna Artspace. Sejak awal berdirinya, Hanna Artspace berkomitmen untuk aktif mendorong dan memberikan kontribusi pada dinamika perkembangan kebudayaan, khususnya di bidang seni rupa. Hanna Artspace memposisikan diri sebagai ruang alternatif bagi perupa untuk menampilkan karya secara elegan dan terorganisir kepada khalayak luas. Di bawah pimpinan pemiliknya, Paul Hadiwinata, Hanna Artspace menyediakan ruang yang representatif dan manajemen untuk memfasilitasi kepentingan segenap masyarakat seni rupa, baik pencipta maupun penikmat karya seni rupa.

Guna mengembangkan sayapnya agar lebih kuat mengusung komitmen, visi dan misinya, mulai tahun ini Hanna Artspace beroperasi di Jakarta. Kehadiran Hanna Artspace di Ibukota bertujuan untuk lebih mengefektifkan kiprahnya dalam membina, memperluas dan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni rupa melalui program pameran, promosi dan sosialisasi karya, serta kerja-sama erat dengan perupa. Dengan berkiprah di “jantung” Indonesia, Hanna Artspace bertekad meningkatkan fungsinya sebagai lembaga kultural dan sekaligus lembaga komersial.

*

Pameran perdana di Hanna Artspace Jakarta bertajuk “Unity in Diversity”. Tema pameran ini mencerminkan spirit Hanna Artspace sebagai sebuah ruang yang mewadahi keragaman kreativitas seni rupa. Hanna Artspace menaruh kepercayaan besar dan apresiasi mendalam pada realitas seni rupa masa kini yang terbentuk dari keragaman sumber penciptaan, gagasan maupun ekspresi kreatif. Seni rupa masa masa kini, baik di lingkup nasional maupun global, dihidupi oleh kekuatan “demokratisasi kultural” yang merayakan keragaman. Dengan berbagai konsekuensi positif maupun negatifnya, dunia seni rupa masa kini telah menjadi ranah subur tempat bertumbuhnya pusparagam kreasi artistik. Di dunia seni rupa masa kini, semuanya sah, segalanya mendapat tempat.

Tema “Unity in Diversity” sekaligus menunjuk pada keragaman bentuk maupun isi karya-karya yang dipamerkan. Selain itu, para perupa yang terlibat dalam pameran ini juga beragam. Mereka berasal dari berbagai generasi dan latar-belakang kultural-biografis. Ada perupa yang terbilang senior, ada perupa yang kini sedang naik-daun, perupa muda, perupa ekspatriat, perupa otodidak, perupa berpendidikan akademis, perupa dari Bali dan luar Bali. Karya mereka menawarkan keragaman tema, gaya maupun teknik. Berpijak pada keyakinan estetik yang berbeda-beda, mereka menjelajahi imajinasi kreatif dalam bermacam ekspresi individual. Sebagian besar dari para perupa ini pernah berpameran di Hanna Artspace Ubud, Bali. Karena itu, dalam pameran “Unity in Diversity”, Hanna Artspace berkesempatan menampilkan karya-karya terkini dan terbaik dalam grafik perkembangan kreatif masing-masing perupa sepanjang dua tahun terakhir.

Pada masa kini, segala skema dan sistem universal telah meredup atau bahkan menghilang. Seni tidak dapat lagi mengklaim kebenaran universal yang kokoh tak tergoyahkan. Maka dari itu, seni pada masa kini tidak lagi berambisi menyodorkan tuntunan, melainkan mencari orientasi. Kini seni tidak lagi bernafsu melontarkan pernyataan, melainkan mengajukan pertanyaan. Melalui karya seni, para seniman masa kini cenderung mempertanyakan realitas yang makin hari makin kompleks.

Sebagaimana yang ditunjukkan oleh karya-karya dalam pameran ini, para seniman masa kini tidak lagi berhasrat menjadi “pahlawan-pemberontak” yang berpretensi mengubah dunia menjadi tempat yang ideal. Mereka tampak menyadari bahwa di era global ini, realitas dan segala problematikanya telah menjadi begitu kompleks. Setiap upaya heroik untuk mengubah realitas sangat mungkin takkan mengubah apapun dan akhirnya sia-sia belaka. Kesadaran ini menyebabkan para seniman masa kini cenderung lebih berkonsentrasi pada upaya memahami realitas, termasuk realitas personal diri mereka sendiri. Ketimbang sia-sia memberontak, mereka lebih memilih merenung: Di dunia macam apakah kita hidup sekarang ini? Apa artinya hidup di tengah carut-marut kenyataan dunia saat ini?

Refleksi tentang kompleksitas dunia kontemporer menjadi semacam benang merah yang menautkan beragam karya dalam pameran ini. Dengan beragam bahasa visual-artistik, lukisan maupun patung dalam pameran ini menggemakan psikologi manusia kontemporer yang hidup di sebuah dunia yang kian mengglobal, di mana jalinan matarantai sebab-akibat melilit seluruh penjuru dunia, dan tak ada secuil pun bagian dunia yang lolos darinya. Karya-karya dalam pameran ini menyiratkan tarik-menarik antara invasi kekuatan global dan resistensi daya-daya lokal, ketegangan antara yang modern dan tradisional, tawar-menawar antara yang natural dan artifisial, persaingan antara yang spiritual dan material, antara yang sekejap dan abadi, antara yang telah lampau dan akan datang.

Globalisasi, sebagaimana dikatakan Anthony Giddens, adalah persoalan transformasi ruang dan waktu dalam kehidupan kita. Peristiwa di tempat yang jauh akan mempengaruhi kita secara langsung, sebagaimana terlihat dalam dampak krisis ekonomi yang begitu cepat menular ke seluruh pelosok dunia. Sebaliknya, keputusan yang diambil oleh individu-individu di tempat tertentu bisa memiliki implikasi sedunia. Ikhtiar memahami realitas kontemporer di dunia yang terglobalkan, beserta transformasi kesadaran ruang-waktu yang ditimbulkannya, adalah motor penggerak lokomotif kreativitas para perupa yang menyatu dalam pameran “Unity in Diversity”.

*

Sejak dibuka di Bali dua tahun silam, Hanna Artspace terus-menerus menyempurnakan diri sebagai agen yang profesional, bermartabat dan terpercaya untuk menjembatani idealisme dan pragmatisme, kreativitas dan pasar, karya dan apresiator, seniman dan masyarakat. Dukungan, kepercayaan dan pengakuan dari kalangan seni rupa maupun masyarakat luas telah membesarkan Hanna Artrspace dan menjadi modal berharga untuk meneruskan langkahnya di Jakarta.

Minggu, 22 Agustus 2010

VISUAL SPA

Seni Fotografi Stephan Max Reinhold

SIMFONI SETETES AIR

Oleh Arif Bagus Prasetyo


Apa yang kita lihat pada karya fotografi Stephan Max Reinhold? Kita melihat subjek yang begitu sederhana: tetes air yang jatuh pada permukaan air. Tetapi bukan hanya itu. Kita melihat bentuk serupa mahkota yang indah. Manik-manik berkilauan mengambang anggun pada hamparan selembut puding. Kawah dan menara pada lanskap planet asing. Konstelasi benda-benda langit dalam pelukan galaksi hening sebening kristal. Kita melihat irama garis, tekstur, dan warna yang bernyanyi tentang semesta ajaib dan misterius. Di hadapan karya fotografi Reinhold, mata kita dibuai pesona musik tanpa suara, lalu perlahan-lahan diri kita luruh dan terbang ke angkasa imajinasi.

Citra fotografis, kata Roland Barthes, adalah analogon: tiruan, salinan yang sempurna dari kenyataan. Inilah yang umumnya diterima orang sebagai kekhasan dan sekaligus kekuatan foto. Kita percaya kepada foto, karena fotografi merepresentasikan dunia secara objektif, telanjang apa adanya. Hubungan antara foto karya Reinhold dan tetes air yang dipotret adalah bagaikan gula dan rasa manisnya. Objektivitas fotografi inilah yang membuat selembar foto bisa menjadi barang bukti yang meyakinkan.

Tentu saja foto bisa dimanipulasi untuk menampilkan kebohongan. Tetapi itu hanya terjadi dalam kasus penipuan. Pada dasarnya, fotografi hanya merekam kenyataan yang dilihat bukan oleh manusia yang bisa bohong, tetapi oleh benda mati yang tak punya pikiran sendiri: kamera. Karena itu orang cenderung lebih percaya kepada citra realitas yang ditampilkan oleh foto ketimbang lukisan, misalnya.

Seni fotografi Reinhold bertumpu pada kesempurnaan analogis foto sebagai medium yang memantulkan kenyataan secara objektif. Pada awalnya Reinhold terpesona kepada butir-butir air hujan yang menetes pada kolam, peristiwa yang begitu remeh dan sangat biasa dalam pengalaman sehari-hari. Momen inspiratif “air menetes pada air” itu kemudian direkonstruksi dalam studio kamar gelap, dan dipotret dengan kamera digital canggih. Hasilnya sungguh mencengangkan: foto-foto pemandangan ajaib yang melampaui pengalaman visual sehari-hari. Mata kita seakan dibuat tak percaya bahwa gambar-gambar yang ditampilkan dalam pameran ini adalah foto, imitasi sempurna kenyataan, bukan lukisan atau hasil manipulasi komputer grafis.

Reinhold setia menjaga watak objektif fotografi. Citra digital hasil jepretan kameranya dirapikan dengan Photoshop, tetapi tidak diubah atau dipoles. Kalau pun ada semacam “manipulasi”, itu dilakukan Reinhold pada tahap pra-pemotretan. Untuk mencari efek warna dan tekstur, ia menaruh berbagai benda yang bayangannya membias pada zat cair yang dipotret. Zat cair itu sendiri biasanya air putih, tapi kadang ia ganti dengan susu, pewarna makanan, minyak, air sabun, atau cat.

Karya fotografi Reinhold merawat hubungan dengan realitas objektif, namun serentak dengan itu mempersoalkan batas-batas kemampuan indera dan nalar kognitif dalam mempersepsi realitas objektif. Secara paradoksal, karya Reinhold menampilkan kenyataan yang ilusif. Berbagai citra fotografis itu mengundang kita untuk melihat momen aktual realitas, tapi sekaligus menyuruh kita untuk meragukan penglihatan kita sendiri. Kita seolah dilemparkan ke wilayah ambang antara kenyataan dan ilusi. Di tangan Reinhold, foto bukan lagi sekadar arsip pasif tentang peristiwa yang telah terjadi, kenyataan yang sudah hilang. Foto berubah aktif menjadi semacam panggilan untuk menyingkapkan kenyataan-kenyataan baru yang lebih menakjubkan.

Salah satu “sihir fotografi” adalah kemampuan fotografi dalam menghadirkan citra realitas yang lebih indah, lebih memukau, daripada kenyataan aslinya. Kemampuan inilah yang dieksploitasi dan dijual oleh, antara lain, fotografi salon. Reinhold juga tampak menyadari “sihir fotografi” ini. Kekuatan karyanya bertumpu pada keajaiban visual yang diciptakan dengan mengeksploitasi teknologi kamera yang mampu menangkap momen yang berlangsung sekejap mata.

Dengan kemampuan mencacah sekuens-sekuens peristiwa hingga hitungan sepersekian detik, mata kamera Reinhold membongkar batas-batas realitas objektif dalam pengalaman normal sehari-hari, dan menghadirkan kenyataan-kenyataan yang tak terjangkau oleh mata telanjang. Jika fotografi ibarat cermin yang menggandakan realitas, maka fotografi Reinhold adalah cermin bertuah: cermin yang menciptakan kenyataan baru, memunculkan dunia lain yang lebih fantastis daripada dunia semula di luar cermin.

Fotografi Reinhold mengekstremkan kemampuan kamera dalam menghentikan waktu. Dalam karya-karya Reinhold, waktu bukan saja tampak membeku, tetapi juga terurai, terhampar menyingkapkan kenyataan yang sulit dilihat dan disadari dalam aliran waktu. Momen-momen tetesan air dalam karyanya adalah elemen-elemen realitas yang hanyut ditelan arus waktu dan hilang untuk selamanya, tanpa pernah sempat memasuki kesadaran optis kita. Fotografi Reinhold menyelamatkan keping-keping realitas yang begitu ringkih ini dari keganasan taring waktu yang memangsa segalanya, dan mengangkatnya menjadi citra utuh penuh pesona.

Di dunia nyata, waktu adalah tuan yang kejam. Di dunia fotografi Reinhold, waktu adalah hamba yang setia. Reinhold memperlakukan waktu, kekuatan mahaperkasa yang akan menghancurkan alam semesta, sebagai kuda tunggangan untuk bergerak mengubah kenyataan banal dan trivial menjadi kenyataan baru yang bermakna. Ia menunggangi waktu untuk meniupkan ruh pada setetes air. Fotografinya mengubah riak dan kecipak menjadi seni: kesementaraan yang menggapai keabadian.

Tetapi selain membekukan dan menguraikan waktu, fotografi Reinhold menyediakan jalan bagi kita untuk mengalami waktu secara subjektif dan personal. Berbeda dari waktu objektif yang terbaca pada jam, waktu subjektif berdetak dalam diri, dan karya fotografi Reinhold memicu detak waktu personal ini. Mula-mula karya Reinhold menghadirkan waktu objektif yang membeku dan terurai: kita melihat garis, tekstur dan warna zat cair pada saat tertentu. Mata kita menangkap momen aktual yang terjadi pada satu segmen waktu objektif yang dapat diukur dengan timer.

Namun kemudian, perlahan-lahan, citra fotografis pada karya Reinhold melepaskan diri dari referensi kenyataan. Kita tidak lagi merasa perlu berpegang pada informasi tentang apa yang kita lihat pada foto, melainkan hanyut mengikuti tegangan dramatik visualnya dan irama kesadaran kita sendiri. Garis, tekstur dan warna tidak lagi menceritakan realitas zat cair yang dipotret, tetapi bangkit menuturkan kisahnya sendiri. Saat itulah kita mengalami waktu sebagai subjektivitas. Mata kita terbuka memandang foto, tapi kita seolah terpejam melayang di langit imajinasi, menyimak simfoni dari getaran sensasi optis.

Karya fotografi Reinhold mengajak kita untuk menari di bawah guyuran waktu murni.

Sabtu, 29 Mei 2010

Opening "Super Heroes"

29 Mei 2010, sesuai jadwal, pameran bersama bertajuk "Super Heroes" di buka. Diantara mendung dan gerimis pukul 18.30 wita, pecinta seni tetap bersemangat untuk melihat karya - karya yang dipamerkan.



"Sebuah kemajuan kualitas yang pesat...." begitu komentar salah satu pecinta seni yang hadir.


Seniman - seniman muda mencari inspirasi dari setiap pagelaran.


Perbincangan tentan nilai karya terjadi diantara mereka yang hadir.


Hampir semua sudut ruang berpameran penuh oleh pecinta seni.


Setiap karya yang ditampilkan memiliki keunikan dan daya tarik sendiri membuat betah untuk berlama - lama menikmatinya.


Seniman, kolektor dan komunitas seni lainnya berbaur menjadi satu.


Audien begitu antusias melihat karya - karya yang ditampilkan oleh perupa -perupa muda potensian dari Bali


Bapak Paul Hadiwinata, Nico, Sutjipto Adi dan Arif Bagus Prasetyo


Bapak Sutjipto Adi memberikan sambutan pembukaan

Bapak Suctipto Adi menyalami semua seniman sebagai tanda pemeran secara resmi telah dibuka

Selasa, 18 Mei 2010

SUPER HEROES

SUPER HEROES

Oleh Arif Bagus Prasetyo


Pameran Superhero berangkat dari art project yang dimulai pada tahun lalu, ketika sejumlah pelukis muda diundang oleh Hanna Art Space untuk menciptakan karya bertema superhero. Proyek ini dimulai dengan pertanyaan sederhana yang dilontarkan kepada para pelukis terundang: apa makna superhero bagi mereka? Apa yang mereka bayangkan dan pikirkan saat mendengar istilah “superhero”? Para pelukis diminta memberi jawaban secara visual, dalam bentuk lukisan. Mereka dipersilakan melakukan penafsiran personal kreatif sebebas-bebasnya terhadap makna superhero. Mereka bebas merepresentasikan apapun yang menurut mereka relevan dengan wacana superhero. Para pelukis boleh terbang bebas di langit imajinasi masing-masing, menggagas dan berbicara apapun tentang superhero.

Proyek pameran ini sejak awal memang tidak mematok pengertian tertentu tentang istilah “superhero”. Justru sebaliknya, proyek ini menantang para pelukis agar berani membuka perspektif yang lebih luas dan menawarkan gagasan yang lebih segar perihal apa dan bagaimana superhero itu. Tujuan utama proyek seni rupa ini adalah eksplorasi kreatif terhadap superhero sebagai salah satu fenomena budaya massa yang memiliki daya pesona mendunia pada era kontemporer.

Sebagaimana ditunjukkan oleh Richard Reynolds dalam bukunya, Super Heroes: A Modern Mythology, figur populer yang dikenal sebagai superhero telah menjadi sosok yang tampil mencolok dalam arus-besar (mainstream) budaya modern. Superhero menghunjamkan pengaruh yang kuat dan makin besar pada masyarakat, moralitas dan politik. Begitu hebatnya pengaruh itu, hingga superhero seolah menjelma jadi mitologi modern. Mitos superhero berkembang-biak dan menyebar-luas dalam kebudayaan masa kini di muka bumi. Kajian Reynolds berpijak pada kehadiran superhero dalam sejarah buku komik di Amerika Serikat, yang telah mengorbitkan kreasi manusia-super sebagai simbol yang dimensi-dimensinya berhasil memuaskan tuntutan dan harapan khalayak ramai.

Pada umumnya, superhero didefinisikan sebagai tokoh rekaan, terutama dalam komik atau kartun, yang dianugerahi kekuatan luar-biasa atau kemampuan adikodrati untuk melindungi masyarakat dari bahaya dan kejahatan. Kata “superhero” sendiri sudah muncul setidaknya sejak 1917. Semenjak tokoh Superman muncul untuk pertama kalinya pada Juni 1938 dalam Action Comics 1 dan berhasil merebut hati publik, berbagai kisah superhero menguasai dunia perkomikan Amerika dan kemudian menyerbu media-media lain, misalnya film. Secara khusus, “Super Hero” dan “Super Heroes” adalah cap dagang yang dimiliki oleh DC Comics dan Marvel Comics, dua penerbit buku komik terkemuka Amerika yang memegang hak paten atas sebagian besar tokoh superhero yang paling kondang, paling berpengaruh dan mendunia.

Definisi umum superhero sebagai karakter komik Amerika tampak pekat membayangi sembilan perupa muda yang terlibat dalam Pameran Superhero: Gede Darmawan, Gusti Made Adi Kurniawan, Gusti Made Mahardika, Komang Agus Dharma Putra, Komang Sedana Putra, Komang Suarnata, Wayan Linggih, Made Somadita dan Ida Bagus Tilem. Karya mereka kebanyakan menampilkan tokoh-tokoh top superhero komik Amerika, seperti Superman, Batman, Spiderman, Hulk dan lain-lain. Karakter-karakter superhero Amerika ini dicitrakan secara “realistik” (sesuai gambaran orisinal superhero dalam komik atau film), atau direpresentasikan secara simbolis (dengan menampilkan lambang superhero tertentu, misalnya huruf “S” untuk Superman atau bentuk kelelawar untuk Batman), atau diparodikan. Pencitraan realistik mendominasi kanvas Gede Darmawan, representasi simbolis menjadi pilihan banyak pelukis, sedangkan parodi merajai karya-karya Komang Agus.

Karakter komik non-Amerika hanya muncul pada lukisan “Sweet Dream” karya Sedana Putra, yang menampilkan figur kartun Doraemon dari Jepang. Tokoh Doraemon sebenarnya sama sekali bukan superhero Jepang. Meskipun komik Jepang sangat populer di Indonesia, para pelukis ternyata tidak berminat mengangkat superhero Jepang, seperti Ultraman atau Ksatria Baja Hitam, dalam lukisan mereka. Sementara itu, tokoh fiksi tradisional Indonesia juga terlihat sekilas saja pada karya Adi Kurniawan (“Ice Super Cream”) dan Made Mahardika (“Help Bali”), yang menyelipkan tokoh pewayangan Gatot Kaca di antara para superhero mancanegara.

Patut dicatat, hubungan genetis antara superhero dan komik hanya tampil secara eksplisit pada lukisan Wayan Linggih (“Pahlawanku Tak Pernah Muncul”), yang memotret sosok lelaki setengah-tua sedang asyik menikmati komik Superman. Karya Linggih ini seperti menegaskan bahwa komik, yang sering dilecehkan sebagai hanya cocok untuk anak-anak dan kalangan semibuta-aksara itu, memiliki daya-tarik sangat besar hingga mampu menghipnotis orang dewasa. Dalam kata-kata Reynolds, “Diciptakan sebagai pahlawan buku komik, mereka [superhero] semakin dikenal luas melalui televisi, film dan (dalam kasus Batman dan Superman) lewat penampilan segar dalam budaya populer Amerika dan Eropa, yang memastikan kehadiran mereka disimak oleh jutaan orang yang belum pernah membaca komik Batman atau menonton film Superman.”

Di luar tokoh fiksi superhero, para perupa mengetengahkan figur-figur dari dunia nyata: pahlawan bangsa dan tokoh nasional (Sukarno dan Gus Dur dalam karya Komang Agus), kumpulan tokoh dunia (“Hero of The World” karya Adi Kurniawan), bahkan sosok ibu sang pelukis sendiri (“Wonder Woman” karya Made Mahardika). Membayangkan superhero, imajinasi para perupa juga melayang kepada sosok konyol pak guru SD Negeri (“Bukan Pahlawan Super” Komang Agus), tentara dan Garuda Pancasila (karya Komang Suarnata), flora (karya Tilem), dan fauna (karya Somadita). Lukisan Somadita, yang menampilkan adegan pertarungan berebut bola antara harimau dan banteng, sayup-sayup menggemakan alusi historis terhadap karya pelukis legendaris Raden Saleh. Sang Pelopor Seni Rupa Indonesia Modern juga dikenal suka melukis drama pertarungan yang melibatkan binatang buas, termasuk macan vs. banteng.

Menjadikan superhero sebagai subjek karya lukis tentu bukan sesuatu yang baru. Tokoh superhero sudah tampil dalam karya seni rupa bersama merebaknya Pop Art di Amerika Serikat pada awal dasawarsa 1960-an. Sebutlah, misalnya, karya Richard Pettibone berjudul “Flash” (assemblage in box, 1962-63) yang menampilkan figur superhero Flash, atau lukisan Mel Ramos bertajuk “Photo Ring” (oil on canvas, 1962) yang mengusung tokoh Batman. Ramos, sebagaimana dicatat oleh Nancy Marmer dalam esai “Pop Art in California”, “melukis para pahlawan dan pahlawati kawakan buku komik – Batman, Crime Buster, dan Glory Forbes-Vigilante – dengan niat tersurat untuk merayakan mereka secara langsung.” Sementara di Tanah Air, banyak perupa kontemporer pernah melukis tokoh superhero, terutama Superman. Salah satunya yang terkenal adalah Dede Eri Supria. Ketertarikan perupa Indonesia kepada superhero tidak terlepas dari kecenderungan utama seni lukis kontemporer yang menghidupkan-kembali, memperdalam dan memperluas khazanah Pop Art.

Dalam pameran ini, tafsir para perupa terhadap tema superhero sebagian besar bersandar pada penggalian kekuatan tanda-tanda melalui alegori dan apropriasi. Tokoh-tokoh superhero pada karya mereka adalah citra alegoris, yang tak lain hasil apropriasi terhadap figur superhero orisinal yang dirujuk. Para pelukis mengklaim citra superhero yang telah mapan secara kultural sebagai miliknya sendiri, dengan cara mengubahnya jadi sesuatu yang lain, baik di tataran bentuk maupun, terutama, isi. Mereka seolah mencabut sang superhero dari habitat semula, lalu melepasnya di lingkungan baru yang sepenuhnya dikontrol oleh perupa. Para pelukis tidak menghidupkan makna orisinal yang dimiliki oleh sang superhero, melainkan membubuhkan makna baru pada citranya. Makna baru ini bisa memperkaya, menyelewengkan, atau malah meniadakan makna yang semula melekat pada citra superhero. Pendek kata, mereka melakukan dekonstruksi makna superhero.

Melalui alegori dan aprosiasi, para perupa memanfaatkan citra superhero untuk berbicara tentang perkara-perkara yang menjadi pemikiran maupun keprihatinan personal masing-masing. Tokoh-tokoh superhero pilihan Gede Darmawan mempromosikan kesadaran ekologis. Paham cinta alam juga tersirat dari karya-karya Tilem. Kritik environmentalis yang nyaring disampaikan Made Mahardika dalam karya “Biarkan Tetap Hijau”, dengan menabrakkan panorama alam gersang dan citra logam industri. Kritik tentang dampak perubahan sosio-kultural yang melanda Bali diutarakan oleh Sedana Putra (“Transformasi Bali”) dan Made Mahardika (“Help Bali”). Karya-karya Komang Suarnata yang bercorak grafiti meyodorkan semacam perlawanan subaltern terhadap ideologi dominan dan nalar kekuasaan yang sarat kekerasan. Dengan senjata parodi yang menyengat, Komang Agus menjungkirbalikkan citra unggul superhero untuk melontarkan komentar sosial-politik kritis kontekstual.

Demikianlah, para perupa peserta Pameran Superhero menawarkan reinterpretasi makna superhero dengan berpijak pada medan permainan tanda-tanda yang merupakan ciri khas praktik seni rupa kontemporer. Karya mereka kiranya dapat menjadi semacam seismograf kultural untuk mengukur sejauh mana getaran mesin industri budaya populer global memasuki ruang-ruang imajinasi kalangan generasi muda kreatif dan terpelajar di negeri kita.

Jumat, 19 Maret 2010

"BALI FROM BEYOND"

21st Century’s International Artists in Bali

by Arif Bagus Prasetyo


The World of fine arts in Bali has characteristic. It is one of the directions of fine arts in Indonesia. It stands among few main cities in Java, known as centre of Indonesia’s fine art developments; like Yogyakarta, Bandung, and Jakarta. One of the common phenomenons is where tradition of fine arts in Bali makes it as centre of International artists. They come to this island of Gods, to gain creative energy and get their inspiration through direct communication with nature and tradition of Bali, as residence or just visitors.


Already for sometimes, Bali is known all around the World as tropical paradise with mystical aura. Balinese culture with various rituals, the friendly people, and beautiful nature, makes Bali rich. These attracted the foreign visitors to come and visit the island. Among those visitors, are artist. Some of them stay in Bali for only few days, but some others keep on coming back to Bali many times, even ended up residing in the island. The International artists created art works, with Bali as their inspiration. It formed and playing an important role, as well as speaks about the image of Bali.


From the colonial era up to now, the enhancement of Bali still attracts International artists to dig inspiration, work, and publicize artworks in this island. From time to time, fine arts in Bali rang by the existence of International artists; from the generation of Walter Spies, Rudolf Bonnet, Le Mayeur, Donald Friend, Willem Gerard Hofker, Theo Meier and Han Snel in the beginning of 20th century up to this 21st century; high tech era. Even there is no clear or accurate data available, there were and still are International artist who supported and still supporting Bali as base of long creativity.


Several International artists commemorated as pioneers to modern fine arts World in Bali. Rudolf Bonnet and Walter Spies in 1927 changed the face of fine arts in Bali, which in previous decades only served the function and means of religious communal. They introduced secular theme, modern Western technique, and individual modern conscious creativity to local artists in Bali. Other important personage is Arie Smit, which in the 60’s led a group of young artists in the village of Panestanan, Ubud, and in the end born out a naïf motif of art with such characteristic, under the flag of “Young Artists”.

Amazement of International artists towards Bali, mostly sourced from public’s view, which dominated that Bali is paradise in the World, with the artistic people and very religious life, living in harmony together with nature and other human beings. Romantic image and the exotic of Bali received a wide acceptance from end of 1920’s decade, when colonial power of the Netherlands reached the peak and restored “tradition” of Bali, which was central strategy of conservative colonials of the Netherlands. Mainly in 1920’s and 1930’s, experts in the anthropology, linguistic, archeology, and theology fields, started to come to Bali and organize high tech portrait about the island of Bali as “The Last Paradise.”


Various image of beautiful Bali as paradise, become public menu in a journey literature, fine arts books, as well as in travel brochures in 1920’s and 1930’s. Back then, Bali is paradise to many International tourists, including the artists whom escaped themselves from their modern Western life that they thought was penurious With their eyes, thoughts, and attracted feeling towards Bali with all its mythological image, International artists come one after another to Bali to work. When over seeing it, they think Bali as a rich source with unique and attractive visuals. The natural panorama of Bali; beautiful, mystical, unique people, and tradition, are image of Bali that are known Worldwide and become artwork’s favorite subject by International artists who comes to Bali.


Fine art exhibition of Bali from Beyond present artworks of International crossed generation artists in Bali. Majority of them are currently works actively. In this exhibition, image of exotic nature, culture, and people of Bali, no longer dominated in the presented works. This image only seen on the work of Rudolf Bonnet, Arie Smit and Han Snel, who are noted as the old generation artists. New generation’s artists bring out the romantic and exotic feature on artwork of Paul Moran and Shan F. Clergue. Paul Moran explored magic nature and the beauty of Balinese people; especially woman’s body. Figure of Balinese woman on artworks of Shan F. Clergue stroked out nostalgic view about pure, natural, and mystical of Bali.

Several artists now commonly presented works with “exotic’s spiritual” and replaced “exotic’s nature – tradition of Bali” as subject of creative exploration. They adventured dimensions behind nature and tradition phenomenon of Bali. Marck Jurt, Pieter Deiman and Patrick Okorokoff expressed spiritual strengths that gives charisma of Bali. Keiji Ujie and Tineke Vermeer developed a trembling cosmic energy on their sculpture works, inspired from nature and life in Bali.


Majority of artists involve in this exhibition, tends to inspire Bali as a form of sanctuary; special zone with aura that able to intensively search out creativity in their own path. They reside and work in this island, but still focuses on personal themes that does not directly adopted life in Bali. Their spiritual creativity influenced by the artistic nature and tradition of Bali, but they do not just visually record about Bali from Westerner’s point of view.

Please view several artworks from this exhibition. Piet Nuyttens captured his memory of the life of Papua people. Razceljan Salvarita revitalized various patterns from the base of traditional fine arts. Skjoldvor Margareta Wiseth centralized her attention of formal expression in shape and color. Bruce Sheratt dived into the fantastic phantasmagorias. Linda Buller structured and organized visual naïf narration from her imagination and spontaneous expression. Michael Chesney interrogated dramatic changes in visualizing this digital technology era.

Other artist does not only work outside their path of the romantic and exotic image of Bali, but blows creative idea, outside their classic paintings and sculptures. Anja Zwanenburg and Stephan Max Reinhold present artistic photography that was processed using digital technology equipment. Emilie Sermet present “digital painting” with abstract motif which was fully worked on, off the computer. Stephen William Barwell present book that contained bunch of poems, where he explored flexible relations and experienced between image and texts.


Bali from Beyond exhibition would like to show that Bali in this 21st century remains to be attracting and inspiring to many International artists. Those International artists who work in Bali does not only continue the historical tradition which once created by those from the past, but at the same time to fruit a new inspiring path of creative development. By putting side by side the artworks of old and new generation, this exhibition reflects the progress movement of International artist’s vision, who are here to visit and work in Bali. This is the indication on changes of Bali in Westerner’s point of view, together with realistic changes on Bali itself.

Senin, 11 Januari 2010

REBORN - Bambang Adi Pramono

Seni Patung Bambang Adi Pramono

SETELAH TIGA DASAWARSA

Oleh Arif Bagus Prasetyo

BAMBANG Adi Pramono adalah perupa kelahiran Sidoarjo, Jawa Timur, 1955, yang telah lebih dari dua puluh tahun bermukim di Bali. Ia lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dan sempat menjadi dosen di almamaternya. Pekerjaan sebagai tenaga pengajar di kampus kemudian ditinggalkan, karena ia lebih tertarik menekuni karier profesional sebagai pematung, juga desainer dan konsultan desain di berbagai proyek. Bambang, antara lain, pernah bertahun-tahun menjadi desainer, konsultan dan instruktur program pembinaan kerajinan di berbagai daerah di Indonesia Timur. Sebagai konsultan dan desainer pula, ia pernah terlibat dalam renovasi “Indonesia Pavilion Expo Garden Kunming, China”; dan pembangunan “Monumen Veteran Pejuang Kemerdekaan RI Sumatera Utara” di Medan, Sumatera Utara. Sementara sebagai pematung, salah satu karyanya yang menonjol adalah “Monumen I Gusti Ngurah Rai” di kawasan Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali.

Sebagaimana dimaklumkan oleh judulnya, Pameran “Reborn” seolah menandai kelahiran kembali Bambang sebagai insan kreatif. Betapa tidak. Setelah absen sejak 2004, baru tahun kemarin karya patung Bambang kembali tampil di sejumlah pameran bersama. Untuk pameran tunggal, masa absen Bambang bahkan lebih lama. Pameran tunggal perdananya berlangsung pada 1981, hampir tiga dasawarsa silam. Baru sekarang ia berpameran tunggal lagi.

Tak syak lagi, kesibukan Bambang melayani permintaan pihak lain selama bertahun-tahun membuatnya tidak punya banyak kesempatan menciptakan karya-karya idealis yang semata-mata mengejar visi kreatif personal, sehingga ia harus ambil cuti panjang dari ruang pameran. Bekerja sebagai desainer maupun pematung dalam berbagai proyek pesanan, Bambang tentu tak bisa sepenuhnya bebas berkreasi. Ada kemauan, kepentingan dan standar kualifikasi dari pihak lain yang mesti dipatuhi, atau setidaknya diperhitungkan atau dinegosiasi. Ia tak mungkin mengekspresikan rasa dan karsanya sendiri secara total dan murni kreatif.

Pameran “Reborn” mengetengahkan karya-karya patung mutakhir Bambang yang, tentu saja, diciptakan sebagai ekspresi kreatif murni. Tanpa dibebani misi dan persyaratan yang dipatok pihak lain, Bambang mengejar misinya sendiri sebagai seorang seniman patung yang berkuasa menentukan syarat-syaratnya sendiri. Ia leluasa mengarungi langit imajinasi untuk memburu ilham kreatif, bergumul dengan konsep dan gagasan ideal, merumuskannya dalam rancang-bangun yang bebas dari agenda pragmatis, mewujudkannya sesuai standar kualifikasi yang ditetapkan sendiri, bahkan terjun langsung dalam proses produksi yang tak jarang melibatkan eksperimentasi.

Tak heran, karya-karya Bambang dalam pameran ini memancarkan semangat eksplorasi yang didorong oleh energi kreatif yang mengalir deras. Daya cipta yang terbendung selama tiga puluh tahun terakhir seolah menemukan kanal-kanal pelepasan kreatif, dan menubuh dalam bahasa artistik trimatra yang kaya makna dan ungkapan. Bambang bergulat dengan aneka pemikiran dan rangsang intuisi kreatif, lalu memahat kayu atau menempa logam, dua bahan utama karya patungnya.

Sebagian besar proses produksi karya memang dikerjakan oleh tangan Bambang sendiri, termasuk untuk patung-patung berbahan logam. Bambang mengaku sangat menikmati kerja fisik yang cukup berat dalam penciptaan patungnya, misalnya menempa logam atau mengolah permukaan logam, sampai ia puas dengan hasil akhirnya. Dalam proses kerja ini ia tidak sekadar membangun suatu konstruksi, melainkan juga bereksperimen, menjajal kemungkinan-kemungkinan yang muncul, menemukan efek-efek tak terduga yang berbeda antara satu patung dan patung lain. Sebuah proses yang tentu menambah nilai otentik dan eksklusif pada karyanya. Bambang terlahir kembali sebagai kreator yang mencipta, bergerak mewujudkan kreasi pribadi dan otonom, di tingkat konseptual maupun praksis. Reborn.

Bambang berkarya dengan menggunakan material konvensional: logam dan kayu. Namun bahan-bahan konvensional itu digarapnya secara kreatif, justru untuk menghadirkan ekspresi yang inkonvensional. Karya-karya mutakhir Bambang menyiratkan suatu idealisme untuk mereformasi citra populer tentang seni patung, dan lebih jauh lagi, meredefinisi hakikat patung. Sejumlah patung yang dipamerkan tampak menantang persepsi umum tentang apa yang lazimnya disebut sebagai “patung”. Lihatlah, misalnya, patung berwujud seonggok tangan yang terputus pada lengan (“Dejected”), lilitan bilah silindris aluminium (“Life Begins”), atau imitasi sepotong bagian berukir dari rangka rumah tradisional Jawa (“Heritage”). Bahwa patung tidak mesti berdiri atau berbaring, tapi bisa juga melayang atau menggelantung (“Dragon Mouth”, “Hanging Nest”). Bambang terkesan mengupayakan hadirnya suatu struktur, proporsi dan energi ekspresif yang baru. Ia menjelajahi kemungkinan-kemungkinan ekspresif baru yang mampu menempung kegelisahan kreatifnya sebagai seniman patung kontemporer. Dengan kepekaan artistik dan kekuatan gagasan yang dimilikinya, Bambang memperluas pengertian tentang “patung”.

Dalam karya-karya mutakhir Bambang, prinsip kestabilan desain, yang biasa melekat pada konstruksi monumen atau patung konvensional, seringkali digantikan dengan pencarian suatu kesetimbangan baru yang rawan. Ada kesan rawan yang membersit dari struktur-struktur trimatra yang rata-rata bertengger pada batang penyangga kecil. Melihat konstruksi patung “Heritage” atau “Dragon Mouth” yang seolah menyangkal hukum gravitasi, misalnya, muncul kesan bahwa kesetimbangan sajalah yang menahan patung-patung itu dari keambrukan. Kerawanan jenis lain diperagakan oleh patung “Torso”. Sepasang torso “kembar siam” yang bervolume cukup besar dalam karya ini nyaris tidak menyatu, hanya seperti menyerempet satu sama lain. Sebagai tambahan, “suasana rawan” kadang juga mengemuka secara tematis, misalnya dalam karya “Kekayon II: Rhythm in Chaos” yang menggemakan kerawanan sosial, atau karya “Love Wave” dan “The Last Summer” yang menggaungkan kerawanan ekologis.

Dalam mengonstruksi patung, Bambang tak segan-segan menangani ruang kosong sebagai elemen yang sama pentingnya dengan volume. Ruang sekitar dapat menembus atau meresapi massa pejal, menjadi bagian integral dari konstruksi keseluruhan sebuah patung. Rongga atau celah bukan sekadar areal kosong, melainkan juga “wujud” yang sama validnya dengan wujud patung itu sendiri. Eksplorasi spasial dengan prinsip “patung menembus ruang dan ruang menembus patung” tampak jelas dipraktikkan dalam karya-karya yang memainkan rongga seperti “The Muscle”, “Dragon Heart” dan “Reach It”. Dalam karya-karya semacam ini, praktis tak ada lagi batas yang tegas antara patung dan ruang kosong di sekitar patung.

Salah satu daya-tarik karya patung Bambang terletak pada tegangan dinamis antara unsur formal dan unsur diskursif, aspek stilistik dan aspek tematik, wujud dan pesan. Di sini gagasan berperan sangat penting, baik gagasan di ranah rupa maupun di ranah wacana. Hampir semua karya Bambang mengusung tema tertentu yang digali dari pengamatan dan pemikirannya tentang berbagi fenomena alam dan kebudayaan. Dalam niat kreatif Bambang, kayu atau logam nyaris tidak pernah berhenti sebatas wahana ekspresi murni, sarana manifestasi keindahan ideal belaka. Hampir selalu ada “narasi” di balik bentuk-bentuk artistik trimatra kreasi Bambang. Namun demikian, “narasi” ini tidak selalu transparan, bahkan kadang tidak terbaca secara visual, karena kuatnya interupsi pertimbangan-pertimbangan artistik formal.

Ambil contoh karya “Reach It” dan “Life Begins”. Tanpa membaca judul, pemirsa kemungkinan besar akan sulit menangkap pesan kehidupan yang ingin disampaikan Bambang dalam kedua patung itu, dan mungkin hanya memaknainya sebagai bentuk-bentuk patung abstrak eksperimental. Contoh lain, pada karya “The Muscle”, “narasi” bahwa patung ini diilhami oleh serat-serat otot (sebuah gagasan yang orisinal!) menjadi kurang berarti dibanding efek artistik yang muncul dari alunan ritme permukaan dan logika visual formal. Sementara pada karya “Torso”, citra tubuh manusia seakan lebur dalam sensasi gerak dari resonansi antara gelombang permukaan kayu dan riak-riak tekstur kayu. Patung berbentuk manusia ini jelas tidak mengangkat isu kemanusiaan.

Dalam karya-karya Bambang, gagasan di ranah rupa tampak cenderung lebih dominan daripada gagasan di ranah wacana. Tapi bukan berarti Bambang kurang memiliki perhatian terhadap isu-isu di luar persoalan rupa. Sejumlah karyanya yang menampilkan mimesis alam (misalnya patung berbentuk tumbuhan, pohon atau sarang burung) mengungkapkan pesan ekologis yang kuat. Kepekaan sosial tentang zaman yang kian akrab dengan kekerasan dan kekacauan diungkapkan secara simbolis dan dramatis dalam karya “Kekayon II: Rhythm in Chaos”; sementara karya “Heritage” menyuarakan keprihatinan tentang ancaman kepunahan warisan budaya tradisional. Kritik terhadap seksualitas pada zaman kontemporer, ketika seks telah terhalau dari ruang sakral dan bisa dinikmati dengan enteng bak hidangan pencuci mulut, disampaikan dengan nada humor dalam karya “Dessert”. Kekuatan gagasan Bambang di ranah rupa memberikan perspektif segar dan aksentuasi unik pada gagasannya di ranah wacana.

Dalam pameran ini, peragaan paling menarik dari paduan kekuatan gagasan rupa dan wacana terdapat pada serial patung naga. Berangkat dari keterpesonaan kepada Cina saat berkunjung ke sana beberapa tahun silam, Bambang mengeksplorasi sosok naga yang menyimbolkan spirit kultural masyarakat negeri Tirai Bambu yang mampu bangkit sebagai bangsa besar di muka bumi. Tapi uniknya, Bambang tidak menciptakan patung naga dengan mengacu pada gambaran umum tentang makhluk mitologis ini, melainkan mengolah elemen-elemen karakteristik naga (terbang, bergerigi, bertaring atau bercakar dsb) hingga menjelma jadi citra naga yang baru dan orisinal. Bentuk hati atau jantung naga (“Dragon Heart”), mulut naga (“Dragon Mouth”) atau penis naga (“Dragon Penishhh…”), besar kemungkinan tak pernah terbayangkan oleh siapa pun sebelum dilahirkan oleh imajinasi kreatif Bambang. Patung-patung “naga” karya Bambang meramu memori dan fantasi, mengawinkan model mitologis purba dan model rekayasa canggih (bahkan futuristis seperti karya “Dragon Mouth”), memadukan spiritualitas dan materialitas. Ke depan, serial patung naga Bambang masih sangat menjanjikan untuk dikembangkan lebih jauh.


Pengikut